Krisis Kepemimpinan Dan Integritas Bangsa: Dialog Akhir Tahun

Indonesia pasca reformasi telah mengalami berbagai perubahan. Dalam kurun waktu  hampir dua dekade, telah terjadi setidaknya lima kali pergantian pucuk kepemiminan di negeri ini. Hal tersebut menjadi menarik diperbincangkan manakala pergantian kepemimpinan tersebut belum juga membawa angin segar kemajuan dalam hal karakter bangsa yang berintegritas. Krisis integritas tersebut menjadi isu yang terus berhembus di tengah usaha-usaha perbaikan sistem demokrasi yang dilakukan. Lalu bagaimana melahirkan seorang pemimpin yang berintegritas? Pertanyaan tersebut menjadi tema Dialog Perspektif Hukum yang dilaksanakan oleh Program Doktor Ilmu hukum Program Pascasarjana Fakultas Hukum universitas Islam Indonesia.

Bertempat di Auditorium Lantai III Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, dan di helat pada hari Jum’at 30 Desember 2017  Dialog dengan tema “Krisis Kepemimpinan dan Integritas Bangsa”  tersebut menghadirkan pembicara Dr. Muh. Busjro Muqoddas, S.H., M.Hum.,  Mantan ketua KPK RI, Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. Mantan Ketua Komisi Yudisial RI serta Nandang Sutrisno, S.H., LL.M., M.Hum., Ph.D.,  Rektor Universitas Islam Indonesia.

Sebagai pembicara pertama Dr. Muh Busjro Muqoddas memaparkan mengenai keprihatinanya bahwa saat ini pempimpin yang ada dan menduduki jabatan strategis hanya bisa menjadi pejabat. Hal tersebut diyakini karena pejabat-pejabat yang ada dilahirkan dari poses demokrasi yang transaksional, jadi tidak heran jika saat ini Pancasila hanya menjadi topeng politik. Sementara itu menurutnya pemimpin justru lahir dari masyarakat bawah. Karena merekalah yang cenderung bisa memimpin dengan tulus dalam artian lebih banyak memberi daripada menerima.

Ketua KPK periode 2010 -2011 tersebut kemudian menyatakan bahwa untuk mencapai masyarakat yang berintegritas terutama bagi para pemimpinnya semua elemen harus melakukan introspeksisecara serius dan tulus. Karena menurutnya integritas adalah sesuatu yang dihasilkan dari menyatunya intelektual dan spiritual dan direfleksikan dalam perilaku sehari-hari.

Sementara itu Drs Suparman Marzuki, S.H., M.Si. menyampaikan bahwa transisi politik yang terjadi di Indonesia saat ini tidak dapat dipungkiri telah lebih baik jika dibandingkan pada masa orde baru. Namun yang menjadi permasalahan adalah sampai saat ini kita masih menyamaratakan pemimpin dengan penguasa. Di dalam sebuah birokrasi yang koruptif  di mana duduk para penguasa terdapat banyak sekali “ladang pendapatan informal” sehingga jika ada yang ingin memperbaiki birikrasi tersebut, resistensinya sangatlah besar. Hal tersebut menyebabkan orang-orang baik di birokrasi teralienasi walaupun berada di dalam sistem.

Prosedur demokrasi yang mahal lah yang menurutnya sangat sulit dilalui orang-orang baik yang tidak punya uang, relasi maupun jaringan, dan untuk memperbaiki hal yang demikian cara termudah adalah dengan berani berkata terus terang teradap hal-hal menyimpang yang terjadi walaupun mungkin tidak didengar . “ Bangsa in telah mencampakkan etika jauh ke dasar jurang hanya untuk mempertahankan kekuasaan yang telah didapat.” Tegasnya Pembicara ketiga Nandang Surtisno, S.H., LL.M., M.Hum., Ph.D. banyak berbicara mengenai bagaimana melahirkan pemimpin yang baik dan genuine. Menurut rektor Universitas Islam Indonesia kepemimpinan yang belum ada di Indonesia adalah kepemimpinan yang Profetik. Mengutip pendapat Alm Kuntowijoyo yang didasarkan pada Surat Ali Imran kepemimpinan Profetik adalah kepemimpinan yang memberikan pembebasan terhadap penghambaan terhadap manusiakarena yang patut di hambai adalah Allah SWT. Kepemimpinan profetik sendiri meliputi tiga hal yakni humanisme, liberasi dan transendensi. Lebih lanjut Dosen Fakultas Hukum UII juga memaparkan kriteria menjadi pemimpin yang baik yakni harus memiliki visi dan misi illahiah, berilmu, kuat secara fisik dan mental, amanah, bertaqwa dan harus bisa menghasilkan kader penerus. Acara yang dipandu oleh Alan Fatcan Gani wardana, S.H., M.H. tersebut dihadiri oleh sejumlah pimpinan serta dosen di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia serta mahasiswa dari Program Pascasarjana Fakultas Hukum UII. Bekerjasama dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) Yogyakarta acara ini rencananya akan disiarkan pada hari Jum’at 5 Januari 2017 petang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *