Studium Generale V Pascasarjana Universitas Islam Indonesia
Written by @min   
Tuesday, 29 November 2016

“Intgrasi ilmu pengetahuan adalah sesuatu yag tidak asing bagi umat Islam sejak ribuan tahun yang lalu. Namun demikian, umat Islam dewasa ini sudah terasing dengan konsep tersebut sehingga merasa perlu untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan.” Demikian yang disampaikan oleh Dr. Bagus Riyono, Psi. selaku pemateri pada kegiatan Studium Generale Pascasarjana Universitas Islam Indonesia (27/11/2016).

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh tenaga kependidikan di segenap program pascasarjana Universitas Islam Indonesia, tidak terkecuali seluruh tenaga kependidikan di Program Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dari pukul 08.30 – 12.00 WIB di Gedung Kuliah Umum Prof. Sardjito, Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Materi yang disampaikan oleh seorang Anggota Dewan Pakar Asosiasi Psikolog Islam ini berjudul “Ilmu Pengetahuan yang Terintegrasi” sebagaimana tema yang diusung pada kuliah umum tersebut, yaitu “Mengintegrasikan Islam dan Ilmu Pengetahuan.” Beliau menjelaskan bahwa yang disebut dengan “Islamisasi” ilmu pengetahuan bukanlah suatu usaha baru, melainkan merupakan sebuah usaha untuk mengembalikan pengetahuan pada posisi yang benar, yaitu terintegrasi dengan ajaran agama, khususnya Islam.

Sejarah Science berasal dari berbagai ilmuwan-ilmuwan Muslim, seperti al-Haytam, Ibn Rusyd, Ibn Sina, al-Ghazali, dan sebagainya. Bahkan sejarah mencatat bahwa al-Haytam merupakan “The First Scientist” karena dia lah yang pertama kali mengilhami para ilmuwan tentang metode ilmiah (Science). Dia terus menerus mencari ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan akhirnya menjadi keyakinannya bahwa untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah, tidak ada jalan lain yang lebih baik kecuali dengan terus-menerus mencari ilmu dan kebenaran. “Demikianlah, sejarah penemuan metode ilmiah (Science) berasal dari semangat seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah,” papar Dr. Bagus Riyono, Psi.

Di akhir pembicaraan, sang pemateri menjelaskan, di generasi-generasi selanjutnya ilmu pengetahuan dipelajari dari para penjajah yang telah mendistori semangat dan prinsip-prinsipnya. Science menjadi alat untuk “menguasai alam semesta”, tidak lagi sebagai jalan suci untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui penghayatan terhadap ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta.

“Untuk dapat melakukan Islamisasi Science, kita harus membersihkan niat kita dan memulai penjelajahan ilmiah kita dari inspirasi al-Quran. Islamisasi science berarti kita kembali kepada semangat asal science dengan mewarisi semangat tauhid al-Haytam, ‘The First Scientist’”, pungkasnya menutup diskusi pada hari itu. Semoga kita semua dapat mewarisi semangat keilmuan yang berorientasi pada kedekatan diri kepada Allah SWT melalui ayat-ayat Nya.[]