Hakim Agung Artidjo Isi Kuliah Pembukaan
Written by @min   
Saturday, 01 October 2016
Salah satu cermin kewibawaan negara baik secara nasional maupun di mata internasional  adalah di peradilan pidana-nya. Hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik apabila pejabat negara maupun warga masyarakat yang memiliki potensi korupsi masih memiliki persepsi bahwa proses penegakan hukum rentan diintervensi, baik melalui kekuasaan politik maupun melalui kekuatan suap. Uraian di atas disampaikan Dr. Artidjo Alkostar, S.H., LL.M dalam rangkaian Kuliah Pembukaan Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia TA 2016/2017 di Auditorium Pascasarjana FH UII Jl Cik Di Tiro No. 1 Yogyakarta, Sabtu 24 September 2016. 

Lebih lanjut Dr. Artidjo juga menyampaikan bahwa korupsi politik telah menjadi kendala struktural, yang menyebabkan Indonesia sulit mencapai tujuan idamannya yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Banyaknya kasus korupsi terutama korupsi berdimensi vertikal yang hanya menyentuh kejahatan pada level bawah menimbulkan skeptisme di mata masyarakat yang semakin menggerus kewibawaan penegakan hukum. Oleh karena itu dibutuhkan sosok penegak hukum dalam hal ini adalah Hakim yang memiliki rasa kewajiban mewujudkan keadilan dengan kesabaran dan kejujuran, yang memiliki kompetensi berupa Knowledge, legal technical capacity (skill) dan commitment.

Dalam acara yang diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, baik jenjang Strata 2 maupun Strata 3 dan di buka langsung oleh Ketua PPs FH UII Drs. Agus Triyanta, M.A., M.H., Ph.D tersebut Dr. Artidjo menyandingkan UII dengan universitas-universitas terbaik di dunia pencetak penegak hukum yang mumpuni di bidangnya seperti Hardvard, Yale dan Columbia University, bahwa sebagai Universitas tertua di Indonesia tidak dapat dipungkiri bahwa Universitas Islam Indonesia telah memberikan Kontribusiyang cukup signifikan bagi Indonesia, tak terkecuali di bidang Hukum. Hal tersebut dapat di lihat dari banyaknya Alumni UII yang menduduki jabatan penting bidang Hukum di Indonesia, sebut saja 11 Hakim Agung yang merupakan Alumni UII dan di antaranya menduduki Wakil Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Tugas hakim yang menuntut kecerdasan intelektual, moral, dan spiritual mensyaratkan para Hakim untuk selalu menjaga dan meningkatkan kepekaan nurani sekaligus merupakan kemulyaan dari hakim yang bermartabat dalam membangun peradaban bangsa. Karenanya dalam menjaga marwah institusi pengadilan dan personal, para Hakim dituntut untuk mengaktualisasi potensi diri termasuk meningkatkan softskill dan melakukan imunisasi mental dengan banyak megkonsumsi pengetahuan dan informasi positif yang ada dalam masyarakat.

Last Updated ( Saturday, 01 October 2016 )